Kita salah dalam mengidentifikasi sumber masalah, sehingga melupakan yang paling penting, yaitu SISTEM! SISTEM yang rusak lah yang menyuburkan aktor-aktor yang buruk dalam pemerintahan di negara ini.
Salah satu contoh ketika ada ada BUMN yang memonopoli satu negara tapi rugi terus tiap tahun, ya sebut saja Pertamina, siapa yang jadi target kemarahan publik? ya media bakal memframing Menteri BUMN, Direktur Utama, atau Komisaris Pertamina. tapi diskusi tentang apa sebenarnya penyebab ruginya Pertamina bukan sebuah diskusi yang umum dibicarakan, entah karena rumit atau memang masyarakat hanya fokus pada bad actor, Sehingga yang ada di imajinasi orang-orang adalah untuk mengatasi masalah Pertamina maka harus ganti Menteri BUMN, atau ganti Eksekutif di perusahaan, itu adalah kesalahan besar.
Mari kita sedikit bedah, Pertama sistem yang buruk menyebabkan direksi, komisaris dan jabatan penting lainnya di perusahaan itu di isi oleh balas budi politik, jadi ga heran kalo kita lihat komisaris Pertamina dari partai A atau partai B, karena sistemnya memang memungkinkan hal itu terjadi, alih-alih di isi profesional Pertamina di isi orang titipan.
Kedua, Alasan nomor satu para pejabat ketika ditanya kenapa Pertamina rugi, mereka akan jawab " Oh kita rugi karena kita terbebani oleh subsidi, dan biaya subsidinya sering telat dibayar" alasan klasik yang bertahun-tahun gapernah ada solusi hadehhh, mereka bertahun-tahun menggunakan alasan template seperti itu tapi gapernah diperbaiki, kembali lagi ke nomor satu gimana mau memperbaiki kalo isinya orang-orang titipan yang inkompeten?
segitu dulu saya ngantuk hehehe
0 Komentar